Bulan Perlahan Menjauh dari Bumi, Ini Penjelasan Ilmuwan
Jumat, 24 April 2026 | 15:00 WIB
:quality(100)/photo/noimg.png)
:quality(100)/photo/2026/02/12/1142438174.jpg)
Lastboy Tahara Sinaga, Ade S

Bulan perlahan menjauh dari Bumi. Apakah suatu saat Bumi akan kehilangan pendamping alaminya itu?
Nationalgeographic.co.id—Selama ribuan tahun, manusia memandang Bulan sebagai penanda waktu yang setia. Pergerakannya yang tampak stabil memberi kesan bahwa hubungan antara Bumi dan satelit alaminya ini tidak pernah berubah.
Bulan mengorbit Bumi dengan pola yang terlihat sangat teratur, hingga peradaban manusia menjadikannya dasar penentuan bulan dalam kalender. Namun, pada kenyataannya Bulan perlahan menjauh dari Bumi. Apakah suatu saat Bumi akan kehilangan pendamping alaminya itu?
Mengapa Bulan terus menjauh dari Bumi?
Dilansir laman Live Science, para ilmuwan menentukan laju pergeseran Bulan dari Bumi dengan bantuan panel reflektif yang ditempatkan oleh NASA selama misi Apollo missions. Selama lebih dari 50 tahun, para peneliti menembakkan sinar laser dari Bumi ke cermin tersebut dan mengukur waktu yang dibutuhkan untuk menerima pantulannya.
Dengan menggunakan kecepatan cahaya, para ilmuwan memperkirakan bahwa Bulan menjauh dari Bumi sekitar 1,5 inci (3,8 sentimeter) per tahun, kira-kira secepat pertumbuhan kuku manusia.
Bulan bergerak menjauh dari Bumi karena efek gravitasi yang saling memengaruhi. Tarikan gravitasi Bulan membuat lautan di Bumi menggembung ke arahnya, menghasilkan pasang surut laut. Sebaliknya, gravitasi Bumi juga memengaruhi Bulan, membuat satelit alami tersebut sedikit berbentuk lonjong seperti bola rugby.
Tonjolan air laut akibat pasang surut menciptakan gaya tarik yang menyeret Bulan. Sementara itu, pergerakan lautan juga menimbulkan gesekan di permukaan Bumi, yang memperlambat rotasi planet ini.

Tarikan gravitasi Bulan membuat lautan di Bumi menggembung ke arahnya, menghasilkan pasang surut laut.
“Sekitar 4,5 miliar tahun lalu, ketika Bulan baru terbentuk, rotasi Bumi jauh lebih cepat, dengan panjang satu hari hanya sekitar lima jam,” ujar Madelyn Broome, astrofisikawan dari University of California, seperti dikutip dari laman Live Science.
Semua gaya ini bekerja bersama-sama untuk mendorong Bulan semakin menjauh dari Bumi.
Broome menjelaskan bahwa karena Bumi dan Bulan merupakan bagian dari sistem yang saling berinteraksi secara gravitasi, total momentum sudut di antara keduanya harus tetap terjaga. Ia menerangkan bahwa momentum sudut menggambarkan energi yang dimiliki oleh suatu benda yang berputar, di mana semakin cepat putarannya maka semakin besar momentumnya, dan sebaliknya.
Bulan Perlahan Menjauh dari Bumi, Ini Penjelasan Ilmuwan
Jumat, 24 April 2026 | 15:00 WIB
:quality(100)/photo/noimg.png)
:quality(100)/photo/2026/02/12/1142438174.jpg)
Lastboy Tahara Sinaga, Ade S

Bulan perlahan menjauh dari Bumi. Apakah suatu saat Bumi akan kehilangan pendamping alaminya itu?
Baca Juga: Inilah Sosok Predator yang Menguasai Bumi Jauh sebelum Era T. Rex
Ia juga menambahkan bahwa bukan hanya kecepatan putaran yang memengaruhi momentum sudut, tetapi jarak dari pusat sistem turut berperan. Menurutnya, semakin jauh suatu objek dari pusat sistem, maka momentum sudutnya akan meningkat, sedangkan jika lebih dekat, momentum sudutnya akan menurun.
Dalam konteks sistem Bumi dan Bulan, ia menjelaskan bahwa ketika rotasi Bumi melambat, harus ada faktor lain yang meningkatkan momentum sudut agar keseimbangan tetap terjaga. Dalam hal ini, peningkatan tersebut terjadi karena objek yang mengorbit, yaitu Bulan, bergerak semakin menjauh dari Bumi.
Bulan kemungkinan terbentuk dari puing-puing hasil tumbukan antara Bumi purba dan objek seukuran Mars, menurut University of Arizona. Gaya pasang surut kemudian membantu menarik Bulan hingga mencapai jarak rata-rata sekitar 238.855 mil (384.400 kilometer) dari Bumi.
Apakah Bumi akan kehilangan Bulan?
Efek pasang surut juga memperlambat rotasi Bulan hingga akhirnya mengalami penguncian pasang surut dengan Bumi. Artinya, Bulan selalu memperlihatkan sisi yang sama ke arah Bumi. Gaya yang sama juga terus memperlambat rotasi Bumi.
Sekitar 50 miliar tahun dari sekarang, rotasi Bumi yang semakin melambat akan membuatnya terkunci secara pasang surut dengan Bulan.
“Pada titik ini, Bumi hanya akan menunjukkan satu sisi ke arah Bulan,” ujar Jean Creighton, direktur Manfred Olson Planetarium di University of Wisconsin-Milwaukee.
Pada saat itu, Bumi dan Bulan juga akan berhenti saling menjauh.
Namun, skenario ini kemungkinan tidak akan pernah terjadi karena Matahari akan lebih dulu berubah.
“Sekitar 5 miliar tahun lagi, ketika Matahari mulai mati, ia akan mengembang menjadi bintang raksasa merah, dan pada titik itu sistem Bumi-Bulan hampir pasti akan terganggu dan hancur,” ujar David Trilling, ketua Departemen Astronomi dan Ilmu Planet di Northern Arizona University.
Jika Bulan terus menjauh dengan laju saat ini, dalam 5 miliar tahun ke depan jaraknya akan bertambah sekitar 117.000 mil (189.000 kilometer).
“Pada saat itu, Bulan akan berada lebih jauh sebelum akhirnya ikut tersapu oleh Matahari yang membesar,” tambah Broome.
Pada akhirnya, Bulan tidak akan benar-benar meninggalkan Bumi. Sebaliknya, Matahari yang akan mengakhiri keberadaan keduanya.
---
Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel dan Google News. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat