Disaster

Sabtu, 02 Mei 2026

Benarkah..? Lubang Cacing / Lorong Waktu Einstein Rosen Bridge, bisakah menembus waktu ruang dan massa

Bayangkan jika jarak miliaran kilometer di alam semesta bukan lagi penghalang, tapi hanya sesuatu yang bisa dilipat. Dalam dunia fisika, ada konsep luar biasa yang disebut lubang cacing, sebuah jalur pintas yang menghubungkan dua titik jauh di ruang dan waktu. Ide ini berakar dari Teori Relativitas Umum yang dikembangkan oleh Albert Einstein, lalu diperluas bersama Nathan Rosen menjadi apa yang dikenal sebagai Einstein-Rosen Bridge. Secara teori, lubang cacing memungkinkan kita melompat dari satu bagian alam semesta ke bagian lain dalam sekejap, tanpa harus menempuh perjalanan panjang seperti biasanya.

Bayangkan perjalanan ke bintang terdekat seperti Proxima Centauri yang biasanya memakan waktu puluhan ribu tahun bisa berubah menjadi hanya beberapa detik. Bukan karena kita bergerak lebih cepat dari cahaya, tapi karena kita mengambil jalan pintas melalui struktur ruang-waktu itu sendiri. Kedengarannya seperti fiksi ilmiah, tapi secara matematis, konsep ini benar-benar ada.

Namun, realitanya tidak sesederhana itu. Untuk menjaga lubang cacing tetap terbuka, dibutuhkan sesuatu yang disebut energi negatif, bentuk energi yang belum bisa kita manfaatkan dalam skala besar. Belum lagi masalah ketidakstabilan yang membuat lubang cacing bisa runtuh dalam sekejap, serta lingkungan ekstrem di sekitarnya yang dipenuhi radiasi berbahaya. Bahkan, beberapa teori menyebutkan bahwa lubang cacing bisa menghubungkan masa lalu dan masa depan, membuka kemungkinan perjalanan waktu yang penuh paradoks.

Meski masih sebatas teori, gagasan ini terus diteliti dan bahkan menginspirasi banyak karya populer seperti Interstellar, yang mencoba menggambarkan bagaimana manusia suatu hari bisa menjelajah galaksi dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Jadi, apakah lubang cacing benar-benar akan menjadi kunci perjalanan antar bintang di masa depan, atau hanya akan tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan? 


Konsep Einstein Rosen Bridge yang dipopulerkan Albert Einstein emang solid secara matematis sebagai cosmic shortcut, namun secara fisikawan Kip Thorne mengingatkan bahwa realitanya kita butuh exotic matter dengan energi negatif buat menstabilkan lubang tersebut agar nggak collapse seketika. Jika ditarik ke perspektif yang lebih luas, fenomena menembus dimensi ini seolah memvalidasi isyarat dalam Al-Qur'an (Ar-Rahman: 33) tentang menembus penjuru langit dengan kekuatan ilmu pengetahuan, namun manusia saat ini masih terbentur keterbatasan teknologi dan risiko radiasi ekstrem yang belum feasible secara ekonomi maupun teknis untuk dieksekusi. Intinya, wormhole itu secara vibe adalah ultimate goal peradaban, tapi secara scientific journey kita masih di tahap tebak-tebak buah manggis, karena butuh energi yang besarnya nggak masuk akal buat sekadar bikin jalur pintas tersebut tetap stay dan aman buat dilewati tanpa bikin kita jadi spageti luar angkasa.

#lubangcacing #wormhole #antarbintang #fisika #astronomi

Sabtu, 25 April 2026

Apakah Bulan menjauhi rotasi bumi, seiring masa habisnya Matahari

Bulan Perlahan Menjauh dari Bumi, Ini Penjelasan Ilmuwan

Jumat, 24 April 2026 | 15:00 WIB

Lastboy Tahara SinagaAde S

Lastboy Tahara Sinaga, Ade S

Bagikan:
Bulan perlahan menjauh dari Bumi. Apakah suatu saat Bumi akan kehilangan pendamping alaminya itu?
Albulena Panduri/Unsplash

Bulan perlahan menjauh dari Bumi. Apakah suatu saat Bumi akan kehilangan pendamping alaminya itu?

Jumat, 24 April 2026

Rahasia Alam Hole (lubang besar mengangah di muka bumi

Sebuah penemuan ilmiah besar di China mengungkap adanya lubang runtuhan raksasa yang di dasarannya terdapat hutan purba yang lebat. Sinkhole ini terletak di Kabupaten Leye, wilayah Guangxi, dan memiliki ukuran yang sangat besar—ratusan meter lebar dan dalamnya. Di dalamnya, para peneliti menemukan hutan yang berkembang sepenuhnya dengan pohon-pohon tinggi yang mencapai sekitar 40 meter.

Lingkungan ini penting karena berfungsi seperti “ekosistem tersembunyi” alami. Dinding curam dari sinkhole menciptakan ruang yang terlindungi, di mana tumbuhan dan hewan dapat berkembang dengan gangguan yang lebih sedikit dari manusia dan kondisi luar. Karena isolasi ini, para ilmuwan percaya bahwa area tersebut mungkin menyimpan spesies langka atau bahkan yang belum pernah ditemukan, termasuk tumbuhan, serangga, dan satwa lainnya.

Sinkhole ini sendiri terbentuk selama ribuan tahun melalui proses geologi alami, terutama akibat erosi batu kapur oleh air. Seiring waktu, tanah runtuh dan membentuk rongga vertikal yang dalam. Dalam lingkungan yang lembap dan stabil di dasarnya, vegetasi dapat tumbuh dengan bebas hingga membentuk hutan yang lebat.

Namun, penting untuk dipahami bahwa meskipun penemuan ini luar biasa, tempat ini bukanlah “dunia yang benar-benar terpisah.” Udara, air, dan sebagian pergerakan hewan masih menghubungkannya dengan lingkungan luar. Ekosistem ini terisolasi secara struktur, tetapi tidak sepenuhnya terputus dari alam sekitarnya.



Para ilmuwan mempelajari sinkhole seperti ini dengan cermat karena dapat membantu memahami keanekaragaman hayati, evolusi, dan bagaimana spesies beradaptasi dalam lingkungan unik. Penemuan ini juga menunjukkan bahwa masih banyak keragaman alam di Bumi yang belum sepenuhnya dijelajahi.

Secara sederhana, penemuan ini menunjukkan bahwa alam mampu menciptakan “dunia hijau tersembunyi” di dalam lubang runtuhan yang dalam, memberikan kesempatan langka untuk mempelajari kehidupan yang berkembang dalam lingkungan yang terlindungi dan tidak biasa.

Apa itu KBC void atau “Local Hole”. dan di mana ...?

Penelitian astronomi terbaru mengusulkan bahwa Bumi dan galaksi Bima Sakti berada dekat pusat sebuah kehampaan kosmik raksasa dengan diameter sekitar 2 miliar tahun cahaya, yang dikenal sebagai KBC void atau “Local Hole”.


Wilayah dengan kepadatan rendah ini mengandung sekitar 20% lebih sedikit materi dibandingkan kepadatan rata-rata alam semesta, menjadikannya salah satu struktur terbesar yang diketahui.

Bukti ini berasal dari osilasi akustik baryon, yaitu pola halus dalam distribusi galaksi yang merupakan jejak gelombang suara dari alam semesta awal, tak lama setelah Big Bang.
Analisis terhadap “suara Big Bang” ini selama dua dekade menunjukkan adanya distorsi yang konsisten dengan lingkungan lokal kita yang lebih “kosong” dari yang diperkirakan.

Dalam kehampaan seperti ini, gravitasi dari wilayah yang lebih padat di sekitarnya menarik materi ke luar, menyebabkan galaksi di sekitar kita menjauh lebih cepat dibandingkan di wilayah yang lebih padat.

Efek aliran keluar ini dapat membantu menjelaskan ketegangan Hubble, yaitu perbedaan antara pengukuran lokal laju ekspansi alam semesta (sekitar 73 km/detik/Mpc dari supernova) dan pengukuran dari latar belakang gelombang mikro kosmik (sekitar 67–68 km/detik/Mpc).

Alih-alih membutuhkan fisika baru yang rumit seperti energi gelap yang berubah-ubah, keberadaan void ini menawarkan penjelasan lokal yang lebih sederhana: posisi kita di dalam “gelembung” ini membuat laju ekspansi tampak lebih cepat.

Para peneliti menghitung bahwa tinggal di dalam void seperti ini bisa hingga 100 juta kali lebih mungkin dalam model yang disesuaikan dibandingkan asumsi bahwa alam semesta sepenuhnya seragam.

Walaupun masih kontroversial dan menantang model kosmologi standar dalam skala besar, gagasan ini sejalan dengan semakin banyaknya pengamatan yang menunjukkan bahwa lingkungan galaksi kita relatif lebih kosong.

Data lebih lanjut dari survei mendatang diharapkan dapat mengonfirmasi atau membantah teori ini, yang berpotensi mengubah pemahaman kita tentang struktur dan evolusi alam semesta.

Rabu, 22 April 2026

Apa Itu AURORA

Langit yang kita lihat setiap hari ternyata bukan sekadar ruang kosong, tapi tersusun dari beberapa lapisan atmosfer yang masing-masing punya peran penting dalam menjaga kehidupan di Bumi.

Lapisan paling bawah adalah troposfer (0–12 km), tempat kita hidup. Di sinilah semua fenomena cuaca terjadi dimana awan bisa terbentuk, hujan turun, angin bertiup, bahkan badai dan petir terjadi. Menariknya, sekitar 75% massa atmosfer berada di lapisan ini, dan suhu akan semakin dingin seiring bertambahnya ketinggian.

Di atasnya ada stratosfer (12–50 km), rumah bagi lapisan ozon. Ozon berfungsi menyerap radiasi ultraviolet (UV) berbahaya dari Matahari. Tanpa lapisan ini, kulit kita bisa terbakar dan ekosistem di Bumi akan rusak. Berbeda dari troposfer, suhu di stratosfer justru meningkat dengan ketinggian karena penyerapan energi UV.

Selanjutnya adalah mesosfer (50–85 km), lapisan paling dingin di atmosfer dengan suhu bisa mencapai -90°C. Di sinilah sebagian besar meteor terbakar akibat gesekan dengan partikel udara, sehingga jarang ada yang sampai ke permukaan Bumi.

Lebih tinggi lagi, ada termosfer (85–600 km). Suhu di sini bisa mencapai ribuan derajat Celsius karena menyerap radiasi Matahari berenergi tinggi. Namun, karena udaranya sangat tipis, panasnya tidak terasa seperti di Bumi. Fenomena aurora terjadi di lapisan ini akibat interaksi partikel Matahari dengan medan magnet Bumi. Beberapa satelit dan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) juga mengorbit di wilayah ini.

Lapisan terakhir adalah eksosfer (>600 km), batas antara atmosfer dan luar angkasa. Di sini, partikel gas sangat jarang dan bisa lepas ke ruang angkasa. Tidak ada batas yang benar-benar jelas, eksosfer perlahan memudar menjadi kehampaan kosmos.

Atmosfer bukan hanya melindungi kita dari radiasi dan benda luar angkasa, tapi juga menjaga suhu Bumi tetap stabil dan memungkinkan kita bernapas. Tanpa lapisan-lapisan ini, kehidupan di planet kita tidak akan bertahan.

#sains #atmosfer #bumi #astronomi #faktadunia

Selasa, 21 April 2026

22 APRIL HARI BUMI

*Bencana Sumatera What's Next*

Hari Bumi 22 April sudah diperingati sejak tahun 1970 dengan tema sesuai kondisi setiap tahunnya. Tema hari bumi tahun 2026 Keluatan Kita Planet Kita mengingatkan semua umay manusia di bumi untuk introspeksi apa yang sudah mereka lakukan dengan dampak yang ditimbulkannya. Beberapa tahun ini perlindungan lingkungan menghadapi tekanan di seluruh dunia karena tekanan ekonomi, konflik, dampak iklim, dan pergeseran prioritas politik.  Kebijakan lingkungan memengaruhi biaya yang ditanggung oleh rumah tangga, pemerintah daerah, dan perekonomian nasional. Perubahan kebijakan ini memengaruhi harga utilitas, produktivitas pertanian, ketersediaan asuransi, *pengeluaran pemulihan bencana*, dan sistem kesehatan masyarakat. Keterlibatan masyarakat menyediakan mekanisme untuk menjaga kesinambungan dan akuntabilitas ketika kapasitas kelembagaan bervariasi. 

Akhir tahun 2025 bangsa Indonesia dikagetkan dengan dampak Bencana Sumatera yang meliputi Provinsi Aceh, Sumut dan Sumbar. Berdasarkan data BNPB per 20 Januari 2026, bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar menyebabkan 1.199 orang meninggal dunia dan 144 orang hilang. Sebanyak 114.200  warga masih mengungsi, dengan dampak rumah rusak mencapai 175.050 unit, 215 Fasilitas Kesehatan, 4.546 Fasilitas Pendidikan. Kerusakan infrastruktur ada 4.000-6.000 titik/unit infrastruktur, termasuk jalan dan jembatan. Desa Hilang: 29 desa lenyap tersapu bencana, mayoritas di Aceh (21 desa).
Kerugian infrastruktur mencapai tembus Rp68,67 triliun. 

*Kenapa sangat besar dampaknya?*.  Peristiwa siklon tropis yang melanda Sumatera tidak dapat dilepaskan dari hilangnya sekitar 1,4 juta hektare hutan tropis yang dialihfungsikan menjadi kawasan budidaya seperti kawasan wisara, pertanian, permukiman,  pertambangan legal dan ilegal,  perkebunan sawit dsb. Perubahan tutupan lahan ini mengakibatkan rusaknya fungsi hidrologis hutan, sehingga kemampuan tanah dalam menyerap air menurun drastis dan memicu aliran permukaan yang bersifat destruktif.

*Apakah kejadian bencana Sumatera bisa terjadi di tempat bila ada pengalihan fungsi lahan hutan?*


Selasa, 14 April 2026

APA ITU GERANGAN EL ~ NINO ...!?!?!???

Sahabat-sahabatku, apa yang kita alami sekarang bukanlah cuaca panas biasa. Ini adalah datangnya bahaya ‘El Niño’, yang dapat diam-diam merenggut nyawa dan memisahkan orang-orang terkasih dari kita. Situasi ini akan menjadi lebih serius menjelang bulan Mei.
😱 Apa itu ‘El Niño’?
Sederhananya, air di Samudra Pasifik menjadi sangat hangat. Ini mengubah aliran udara di seluruh dunia. Angin monsun barat daya, yang seharusnya membawa hujan di bulan Mei, mungkin akan terlambat atau kurang kali ini. Ini berarti bahwa ketika seharusnya hujan, yang akan terjadi hanyalah panas yang sangat terik.
🏠🔥 Situasi ini sangat berbahaya.

Bahkan orang sehat pun dapat meninggal karena serangan panas. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan nyawa kita, kita harus segera melakukan hal-hal berikut:
💧 Jangan menunggu sampai Anda merasa haus – itu berbahaya!
Rasa haus adalah tanda bahwa tubuh sudah mengalami dehidrasi. Anda harus minum air setiap jam. Pastikan anak-anak dan lansia minum air. Selalu sediakan botol air di dekat Anda.

 ☀️🚫 Waktu paling berbahaya adalah dari pukul 11 ​​pagi hingga 3 sore
Pada waktu ini, matahari langsung mengenai tubuh.
Tetaplah berada di dalam ruangan sebisa mungkin
Pertimbangkan dengan cermat jika ada acara olahraga sekolah
Nyawa anak Anda lebih berharga daripada medali apa pun
👕 Hindari pakaian hitam
Pakaian hitam menyerap panas lebih banyak. Kenakan pakaian katun berwarna terang seperti putih atau merah muda.

⚠️ Gejala Serangan Panas:
Sakit kepala hebat
Pingsan
Muntah
Kulit kering tanpa berkeringat
Jika Anda mengalami gejala-gejala ini, segera bawa mereka ke tempat teduh, usap tubuh dengan kain lembap dan segera bawa mereka ke rumah sakit.
🐾 Jangan lupakan hewan peliharaan
Bantu tidak hanya anjing dan kucing di rumah Anda, tetapi juga hewan-hewan di jalan.
Sediakan air di depan rumah atau di dekat dinding
Pastikan ada tempat teduh
🚰📢 Terakhir…
Jangan diam setelah membaca informasi ini. Bagikan dengan keluarga dan teman-teman Anda.  Kita semua perlu bersiap menghadapi kondisi 'El Niño' yang akan datang.

Ingatlah…
Kita hanya bisa terhindar dari bahaya ini jika kita aman.
Bagikan informasi ini untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Minggu, 22 Februari 2026

Opini Puasa di Tengah Krisis Iklim, Menjaga Bumi sebagai Bagian dari Ibadah Ahad.

Opini Puasa di Tengah Krisis Iklim, Menjaga Bumi sebagai Bagian dari Ibadah Ahad. 

Bulan Ramadan selalu hadir sebagai momentum spiritual yang menuntun umat Islam untuk menata ulang relasi dengan diri, sesama, dan Tuhan. Namun, di tengah krisis iklim yang kian nyata, puasa seharusnya juga menjadi ruang refleksi atas relasi kita dengan alam.    Banjir, longsor, kekeringan, gelombang panas, dan krisis pangan yang semakin sering terjadi menunjukkan bahwa krisis iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas hari ini yang dampaknya paling berat dirasakan oleh kelompok rentan. 

Perubahan pola musim mengganggu produksi pangan petani, nelayan menghadapi ketidakpastian cuaca ekstrem, sementara warga miskin kota menjadi kelompok paling terdampak ketika bencana datang.   Dalam konteks ini, ibadah puasa tidak cukup dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga semata, melainkan juga sebagai latihan menahan diri dari perilaku eksploitatif terhadap alam. Puasa mengajarkan batas—bahwa tidak semua yang bisa kita ambil dari bumi harus kita ambil tanpa kendali.   Dalam perspektif ajaran Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi, dengan amanah untuk merawat dan menjaga keberlanjutan ciptaan Tuhan. Puasa melatih kesadaran etik untuk hidup secukupnya, menghindari pemborosan (israf), serta menumbuhkan empati pada mereka yang hidup dalam keterbatasan.    Nilai-nilai ini sangat relevan dalam menghadapi krisis iklim, yang salah satu akar masalahnya adalah gaya hidup konsumtif, boros energi, dan rakus sumber daya. Ketika puasa dimaknai secara ekologis, ia menjadi laku spiritual yang mendorong perubahan perilaku: dari gaya hidup eksploitatif menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan. 

Sayangnya, praktik Ramadan di ruang publik kita sering justru memperlihatkan paradoks. Konsumsi meningkat tajam, produksi sampah melonjak, penggunaan plastik sekali pakai membanjiri ruang-ruang ibadah dan kegiatan berbagi takjil, sementara sisa makanan terbuang percuma.    Di banyak tempat, semangat berbagi tidak diiringi dengan kesadaran ekologis. Padahal, krisis iklim menuntut perubahan pola konsumsi, termasuk dalam praktik ibadah. Puasa yang tidak diiringi dengan kesadaran lingkungan berpotensi kehilangan makna etiknya.   Puasa ramah lingkungan bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana dan kontekstual.
 

** Pertama  
mengurangi sampah plastik dalam kegiatan buka puasa bersama dengan mendorong penggunaan wadah pakai ulang dan pengelolaan sampah terpilah di masjid serta pesantren.    

** Kedua  
menghindari pemborosan makanan dengan menyajikan menu secukupnya, mengelola sisa makanan, dan mengedukasi jamaah tentang food waste. 

** Ketiga, menghemat air dan energi dalam aktivitas ibadah—termasuk penggunaan air wudhu secara bijak dan efisiensi listrik di ruang-ruang ibadah.    

** Keempat 
 mengarahkan sedekah dan infak tidak hanya pada konsumsi sesaat, tetapi juga pada program-program ketahanan pangan, konservasi lingkungan, dan penguatan ekonomi kelompok rentan yang terdampak krisis iklim.   Praktik puasa ramah lingkungan bukan sekadar wacana. Di Yogyakarta, sejumlah masjid mulai menunjukkan bagaimana nilai ibadah dapat diterjemahkan menjadi aksi ekologis yang konkret.    Masjid Jogokariyan dikenal dengan tradisi berbagi takjil berskala besar yang dikelola secara tertib, sekaligus terus mendorong pengurangan pemborosan makanan dan penataan distribusi agar lebih efektif.    

Sementara itu, masih banyak Masjid yang belum bisa nerepakan dan mempraktikkan konsep masjid ramah lingkungan melalui pengelolaan sampah berbasis jamaah, penghijauan lingkungan sekitar masjid, penghematan air wudhu, serta pemanfaatan energi terbarukan untuk menekan jejak karbon aktivitas ibadah.

 Inisiatif-inisiatif lokal ini diperkuat oleh imbauan kelembagaan dari Kementerian Agama di masing kota dan kabupaten  seperti  Kota Yogyakarta yang mendorong pengelola masjid untuk lebih bijak mengelola sampah Ramadan, menghemat air dan energi, serta membangun sistem pengelolaan lingkungan di tingkat komunitas.    

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa masjid dapat bertransformasi menjadi pusat edukasi dan praktik kesalehan ekologis—tempat ibadah yang tidak hanya memuliakan Tuhan, tetapi juga merawat bumi sebagai amanah bersama.   Peran lembaga keagamaan, masjid, pesantren, dan organisasi masyarakat sipil menjadi kunci dalam menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan perilaku kolektif. Dakwah ekologis perlu diperkuat—bukan sekadar mengajak beribadah secara ritual, tetapi juga menumbuhkan kesalehan ekologis.   

Pada akhirnya, puasa di tengah krisis iklim adalah panggilan etis untuk memperluas makna ibadah: dari kesalehan personal menuju kesalehan sosial dan ekologis. Menjaga bumi adalah bagian dari menjaga kehidupan, dan menjaga kehidupan adalah inti dari ajaran agama itu sendiri.    Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk mengubah kebiasaan—bukan hanya selama sebulan, tetapi sebagai laku hidup berkelanjutan. Jika puasa berhasil melatih kita menahan diri dari yang merusak, maka ia telah menjadi ibadah yang relevan bagi zaman krisis iklim hari ini.   



Nara sumber : 
* Ketua LPBI NU Jawa Barat
* Ketua Dewan Nasional WALHI
   2012–2016. 
* Direktur Yayasan Sahabat
  Nusantara. 
* Anggota Dewan Sumber Daya
  Air Jawa Barat, 
* Anggota Dewan Pakar Forum
   POSGAB, 
* Pegiat Lingkungan dan
   Bencana

Ditulis dan di daur ulang oleh 
D.S.M Ibrahim
* Pegiat kebencanaan







Sabtu, 24 Januari 2026

kapan bangsa Yaman datang ke bumi Nusantara sebelum berdirinya NKRI ..?

"Darah Ba’alawi di Balik Singgasana: Jejak Arab Yaman dalam Keraton Yogyakarta"
 
(Menjawab permintaan Mas Andi Awan Tentang Habib Hasan Munadi Baabud)

Sejarah Nusantara tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia tumbuh dari perjumpaan banyak bangsa—dan salah satu yang paling awal berbaur dengan penduduk lokal adalah para pendatang Arab Hadhrami (Yaman Selatan). Jauh sebelum kolonialisme Belanda menginjakkan kaki, proses pembauran itu telah terjadi secara alamiah: lewat perdagangan, dakwah, dan pernikahan.

Sebagian dari mereka bahkan menembus tembok-tembok kerajaan Nusantara. Menariknya, banyak keturunan Arab tersebut kemudian melepas nama Arabnya, mengenakan busana lokal, mengikuti adat istiadat setempat, dan hidup sepenuhnya sebagai bagian dari masyarakat Jawa. Inilah wajah asimilasi yang sering luput—atau sengaja dilupakan—oleh mereka yang gemar memutus nasab dan merendahkan peran keturunan Yaman dalam sejarah Indonesia.

Salah satu contoh paling nyata dari pembauran ini adalah Kesultanan Yogyakarta.

– Jejak Arab di Lingkar Dalam Keraton

Dalam penelitiannya, L.W.C. Van den Berg mencatat adanya keluarga Arab yang menduduki posisi penting di Kesultanan Yogyakarta. Meski sebagian besar dari mereka telah kehilangan ciri lahiriah bangsa Arab—baik nama maupun budaya—jejak darah dan peran mereka tetap tercatat dalam sejarah.

Penelitian akademik yang lebih spesifik dilakukan oleh Siti Hidayati Amal (Universitas Indonesia) dalam riset berjudul Menelusuri Jejak Kehidupan Keturunan Arab-Jawa di Luar Tembok Keraton Yogyakarta. Di sana disebutkan beberapa nama dan jalur pencarian yang mengungkap mata rantai keturunan Arab dalam lingkungan keraton.

Salah satu sumber utama adalah Ibu Wida, seorang keturunan Arab-Jawa dari jalur ibu. Dalam Serat Kekancingan (surat keterangan silsilah) dari Keraton Yogyakarta, disebutkan dengan jelas bahwa beliau merupakan keturunan Arab dan Jawa. Dari penelusuran yang dilakukannya, ditemukan silsilah Arab keluarganya sebagai berikut:

Muhammad Shahib Mirbath – Ali Ba’alwi – al-Faqih al-Muqaddam Muhammad – Alwi al-Ghayyur – Ali – Muhammad Mauladawilah – Ali – Abdullah Ba’abud – Abdurrahman Ba’abud – Abu Bakar Ba’abud Kharbasyan – Ahmad – Husein – Abu Bakar – Abdullah – Muchsin – Umar – Muchsin – Abdullah – Alwi Ba’abud – Hasan al-Munadi – Ibrahim Ba’abud – Mohamad Irfan – Ya’kub – Hasan Manadi – Siti S (ibu dari Ibu Wida).

Silsilah ini bukan klaim lisan tanpa dasar, melainkan ditopang dokumen keraton dan riset genealogis yang serius.

– Alwi Ba’abud dan Awal Masuknya Arab Ba’alawi ke Keraton

Sumber penting lainnya adalah Soemitro Oetomo (Tommy)—kerabat Ibu Wida—yang secara tekun menelusuri garis keturunannya. Penelusuran ini tidak dilakukan sembarangan. Ia dibantu oleh sejarawan dan institusi kredibel seperti Peter Carey, Sartono Kartodirdjo, Arnold Toynbee, de Graaf, serta Kantor Arsip Nasional.

Dari hasil riset tersebut, ditemukan bahwa orang Arab pertama yang masuk ke lingkar Keraton Yogyakarta adalah Alwi Ba’abud, seorang keturunan Ba’alawi dari Hadhramaut. Ia datang ke Nusantara melalui jalur perdagangan Jepara dan Demak pada tahun 1755—tahun yang sama dengan Perjanjian Giyanti, ketika Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono I.

Alwi Ba’abud bukan sekadar pedagang. Selain dikenal sebagai pedagang kuda, ia juga seorang tabib. Keahliannya membuatnya dekat dengan Sultan dan akhirnya diangkat sebagai penasihat agama di Keraton Yogyakarta. Hubungan ini bukan hubungan tempelan, melainkan relasi kepercayaan yang lahir dari jasa dan integritas.

– Pernikahan Darah Arab dan Darah Raja

Menurut cerita para pini sepuh, Alwi Ba’abud menikahkan putranya, Hasan al-Munadi, dengan putri Sultan Hamengku Buwono II (Sultan Sepuh), yakni Bendoro Raden Ayu Samparwadi, putri dari Bendoro Mas Ajeng Citrosari.

Kisahnya bermula ketika Samparwadi jatuh sakit. Sultan Hamengku Buwono II mengadakan sayembara bagi siapa saja yang mampu menyembuhkan sang putri. Orang yang berhasil adalah Alwi Ba’abud. Namun karena usianya telah lanjut, ia tidak menikahinya, melainkan menikahkan putranya dengan Samparwadi.

Pernikahan ini berlangsung pada tahun 1789, dan dari pernikahan tersebut lahirlah Ibrahim Ba’abud Madiokusumo—leluhur dari banyak garis keturunan Keraton Yogyakarta yang masih ada hingga hari ini.






– Penutup: Sejarah Tidak Bisa Diputus dengan Caci Makian

Fakta-fakta ini menunjukkan satu hal sederhana: keturunan Arab Ba’alawi bukanlah penumpang gelap dalam sejarah Nusantara, apalagi dalam sejarah kerajaan-kerajaan Jawa. Mereka hadir, berbaur, berjasa, dan bahkan menjadi bagian dari darah raja.

Maka, upaya memutus nasab Habaib atau merendahkan peran keturunan Yaman bukan hanya tidak beradab—tetapi juga bertabrakan langsung dengan arsip, riset akademik, dan dokumen keraton. Sejarah boleh diperdebatkan, tetapi tidak bisa dihapus hanya dengan teriakan kebencian.

Referensi
L.W.C. Van den Berg, Orang Arab di Nusantara. Jakarta: Komunitas Bambu, 2010.
Siti Hidayati Amal, Menelusuri Jejak Kehidupan Keturunan Arab-Jawa di Luar Tembok Keraton Yogyakarta, Universitas Indonesia.
__________

Oleh Tamzilul Furqon S.Pd.

Arsip Blog