Disaster

Rabu, 18 Desember 2024

KEDIRI DALAM SEJARAH PERJUANGAN PERLAWANAN TERHADAP KOLONIAL VOC BELANDA


Pramoedya Ananta Toer kurang lebih pernah menulis begini di novelnya, "Kamu boleh pintar setinggi langit, tapi kalau kamu tidak menulis maka kamu akan hilang dari ingatan masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian..."

Tetapi kalau menulis thok dan tidak pernah diterbitkan menjadi sebuah buku ya tulisan itu hanya akan menjadi konsumsi sendiri dan tidak begitu berdampak pada orang banyak. Masalahnya seberapa banyak sih ada orang yang mau menjadi penerbit buku? bisnis yang tidak terlalu jelas untungnya? apalagi menerbitkan buku di jaman kolonial Hindia Belanda dan bersaing keras dengan Penerbit Balai Pustaka yang dijadikan satu-satunya penerbitan resmi yang disubsidi oleh pemerintah kolonial?

Perkenalkan...inilah Tan Khoen Swie. Seorang Tionghoa yang punya nyali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas? bukan dengan teriak-teriak sok nasionalis tetapi dengan tindakan nyata.

Lahir di Wonogiri tahun 1884 konon ia besar di kota kelahirannya dengan menjadi tukang rakit penyeberangan sungai Bengawan Solo. Lalu ia mengembara ke kota-kota lain sambil belajar menguasai bahasa Hakka sebagai bahasa pengantar dengan komunitas Tionghoa di mana pun dia tinggal. Dari pengembaraannya itulah ia kemudian menikahi seorang gadis dari Surabaya bernama Liem Gio Nio dan kelak memiliki 3 anak. 


Pengembaraannya berhenti di Kediri. Di kota inilah Tan Khoen Swie semakin fasih berbahasa Jawa rendah maupun tinggi. Ia mampu membaca dan menulis aksara Jawa. Ia juga tertarik pada kebudayaan Jawa termasuk budaya wayang maupun ilmu kebatinan Kejawen.

Dia kemudian menghidupi kebudayaan Jawa tersebut dengan suka bermeditasi, puasa, berlaku vegetarian dan mempunyai minat tinggi pada hal-hal gaib dan ilmu Kejawen.

Minat kepada sastra dan kebatinan Jawa memberi ide baginya untuk mengembangkan bisnis penerbitan bernama Boekhandel Tan Khoen Swie, di rumah sekaligus tokonya (toko Soerabaia) di Jalan Dhaha Kediri. Bisnis itu ia didirikan tahun 1915, jadi 3 tahun sebelum Penerbit Balai Pustaka didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Melalui penerbitannya inilah Tan Khoen Swie benar-benar berkontribusi pada pengembangan kebudayaan Jawa. Fokus bisnisnya adalah buku berhuruf dan berbahasa Jawa, berhuruf latin dan berbahasa Jawa serta berhuruf latin dan berbahasa Melayu. Topik bukunya juga beragam dari buku masakan, pertanian, filsafat, pendidikan, sejarah, agama, sastra bahkan teknik berhubungan seksual suami isteri.

Tan Khoen Swie berjasa besar memasyarakatkan pengetahuan dan filsafat Jawa yang saat itu hanya terbatas dalam kepujanggaan kraton menjadi bentuk buku yang bisa dipelajari oleh semua kalangan masyarakat.

Semua buku-buku Jawa yang legendaris itu adalah terbitan dari Boekhandel Tan Khoen Swie: 
- Primbon Jayabaya (Ronggowarsito)
- Serat Wedhatama (Mangkunegara IV)
- Serat Kalatidha (Ronggowarsito)
- Serat Gatholoco
- Serat Dharmogandul
- Serat Nitimani (ini buku kamasutra ala Jawa)
- Serat Babad Kediri

Selain aktif di dunia kebatinan, ia juga memimpin perkumpulan Kioe Kok Thwan, oranisasi Tionghoa Kediri yang melawan kolonial Belanda tahun 1935. Ia tidak pernah mau mengubah nama Tionghoa-nya untuk menunjukkan bahwa orang Tionghoa pun bisa menjadi orang Jawa dan Indonesia tanpa harus menanggalkan identitas aslinya.

Nasionalisme keindonesiaannya juga ditunjukkan dengan menerbitkan buku berbau anti kolonial berjudul "Atoeran dari Hal Melakoeken Hak Perkoempoelan dan Persidangan Dalem Hindia-Nederland" karangan R. Boediharjo (1932) serta buku "Tjinta  Kebaktian Pada Tanah Air" tahun 1941. 

Beberapa sastrawan dan pujangga seringkali bermeditasi di rumahnya untuk mendapat inspirasi dala penulisan karya tulisnya. Konon, Tan Khoen Swie juga menjadikan rumahnya sebagai tempat mampir para mantan pengikut Pangeran Diponegoro yang tercerai-berai. 

Tan Khoen Swie sampai sekarang dihormati oleh para intelektual Jawa karena jasa dan kontribusinya pada Kasusastraan Jawa. Ia meninggal di Kediri tahun 1953. Anaknya, Tan Biang Liong, meneruskan usaha ayahnya bahkan sempat dipenjara 3 bulan karena menerbitkan buku Aji Asmorogomo, buku teknik berhubungan seksual untuk mendapatkan keturunan yang dilengkapi dengan ilustrasi. Kejadian ini menjadi salah satu penyebab anaknya menghentikan bisnis penerbitan di tahun 1963 untuk berkonsentrasi pada bisnis-bisnis lainnya.

Jadi sekarang ketahuilah, kawan. Kediri itu bukan hanya terkenal karena Gudang Garam-nya saja. 

Ingatlah nama Tan Khoen Swie....ketika Anda sedang membaca buku. 
Gara-gara dia orang lain jadi berpikir bahwa menjadi penerbit ternyata juga bisa menjadi penghidupan sekaligus mencerdaskan orang banyak.

Untuk jasa-jasanya itu pemerintah Republik Indonesia belum pernah memberikan penghargaan apa pun kepadanya.

(Osa Kurniawan Ilham)
Di sadur ulang oleh 
Gus Brohim  
( Ibrohim Dasilva )

Minggu, 08 September 2024

Al-qur'an di turunkan untuk seluruh lapisan umat manusia


Al-Quran adalah untuk segala manusia. Jika muslimin mengklaim bahwa Al-Quran itu hanya milik muslimin, maka itu artinya mempersempit dan menyalahi statemen Al-Quran itu sendiri, "Hudan lin_Naas". Dalam perspektif ini, tiap individu bebas memahami, menafsir, teks Al-Quran, tanpa mengaitkan dia beragama apa, bersuku bangsa apa. Yang menjadi penting, jangan memaksa tafsir dirinya untuk diterima orang lain. Dan, jangan memandang tafsir dirinya yg paling benar.

Perkaranya, Al-Quran yg sampai kepada manusia berwujud teks berbahasa Arab, lalu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Salah satunya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Syekh Dr Ali Jum'ah (Mufti Mesir),  memberi penjelasan, bahasa adalah organisme hidup yang tumbuh dan berkembang serta bercabang. Bahasa Arab, yg digunakan sbg bahasa Al-Quran, memiliki ciri khas yang dikandungnya.

Di antaranya, ciri pertama, sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Jinni, yakni aspek kelengkapannya. Ciri khusus berikutnya dari bahasa Arab ialah otentik, memiliki ragam metafora, dan ragam bentuk penyampaian.

Selain itu, Syekh Ali Jum'ah menjelaskan, bahasa Arab juga memiliki banyak sinonim. Dalam kasus bahasa Arab, contohnya adalah "khamr," yang memiliki lbh kurang 90 sinonim. Ciri khas lainnya, yaitu bahasa Arab memiliki sifat gabungan. Artinya, satu kata dalam bahasa Arab bisa memiliki banyak makna. Misalnya 'aynun', yang memiliki banyak arti, di antaranya mata, mata-mata, jiwa, dan lainnya.

Dengan begitu sifat Bahasa Arab, maka tiap ianya diterjemahkan ke lain bahasa, maka pasti ada "distorsi" makna yg dikandungnya. Oleh karena itu pembaca terjemahan bisa terjebak pada makna konteks budaya bhs terjemahannya, tanpa melihat konteks, ciri teks, dan lokus serta kala saat teks itu berwujud.

Nah inilah, akar dari masalah kegaduhan tentang hapus menghapus ayat. Yang ini kulo sebut seperti tertera pada judul tulisan ini. 

Masih beruntung Al-Quran, karena diterjemahkan ke dalam bahasa2 apa pun di dunia masih disertakan teks berbahasa Arabnya, sehingga bila terjadi perselisihan nuansa makna terjemahan bisa dirunut kembali pada teks aslinya, lalu dikaji bersama sesuai ilmu linguistik dan sastra Arab, serta konteks, lokus, dan kala saat teks itu berwujud.

Nah, apakah kitab suci selain Al-Quran yg sampai kepada kita sekarang ini mudah dirunut teks berbahasa aslinya saat teks kitab suci ybs pertama kali berwujud? 

Jika kita membandingkannya antara terjemahan suatu kitab suci dengan terjemahan kitab suci lainnya, sesungguhnya yg demikian ini adalah perbandingan terjemahan. Dan namanya terjemahan itu ya sdh masuk pendapat penerjemah/tim penerjemah.

Semoga sesama pembaca terjemahan tidak saling pethenthengan. 
Mugo2

πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ

Oleh Gus Broo..heemm

PENDEKAR WANITA KETURUNAN TIONGHOA YANG MENYAMAR JADI PRAJURIT LAKI-LAKI DI KEBUMEN

PENDEKAR WANITA KETURUNAN TIONGHOA YANG MENYAMAR JADI PRAJURIT LAKI-LAKI DI KEBUMEN

Di daerah Kebumen, Jawa Tengah, ada sebuah makam tua yang berada di tengah sawah. Uniknya, di sana ada sebuah gapura bergaya arsitektur Tionghoa.

Dari keterangan sebuah nisan, makam tua itu adalah milik R.A K.R.A.T Kalapaking III, atau bisa disebut Raden Ayu Tan Peng Nio.

Raden Ayu Tan Peng Nio merupakan seorang pejuang Indonesia keturunan Tionghoa. Ia ikut berperang dalam perang Geger Pecinan melawan tentara Belanda.

Tan Peng Nio merupakan anak dari Jenderal Tan Wan Swee. Sebelumnya, Tan Wan Swee berselisih pendapat dan melakukan pemberontakan yang gagal terhadap Kaisar Qian Long (1711-1799) dari Dinasti Qing. Ia kemudian menitipkan Tan Peng Nio kepada sahabatnya, Lia Beeng Goe, seorang ahli pembuat peti mati dan ahli bela diri. Setelah pemberontakan itu gagal, Tan Peng Nio menjalani pelarian bersama Lia Beeng Goe ke Singapura, lalu berpindah ke Sunda Kelapa (sekarang Jakarta).

Pada tahun 1741, terjadi sebuah huru-hara yang terkenal dengan nama Geger Pecinan. Saat itu, terjadi pembantaian terhadap etnis Tionghoa oleh tentara VOC. Saat pembantaian itu terjadi, Lia Beeng Goe dan Tan Peng Nio mengungsi ke arah timur hingga tiba di Kutowinangun, Kebumen. Di sana mereka bertemu Kiai Honggoyudho yang mahir membuat senjata.

Ketika terjadi peperangan dan penyerbuan selama 16 tahun (1741-1757) atau Perang Kuning oleh Pangeran Garendri, Tan Peng Nio dikabarkan ikut bergabung ke dalam 200 tentara bentukan KRAT Kolopaking II yang dikirim untuk ikut membantu pasukan Garendri. Saat itu, Tan Peng Nio dikabarkan menyamar menjadi prajurit laki-laki.

Peperangan itu kemudian berakhir dengan terjadinya Perjanjian Giyanti. Setelah perang berakhir, ia menikah dengan KRT Kolopaking III dan menetap di Kutowinangun, Kebumen. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai dua orang anak yaitu KRT Endang Kertawangsa dan RA Mulat Ningrum.

Tan Peng Nio menetap di Kebumen hingga akhir hayatnya. Saat meninggal, ia dikebumikan di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen. Makamnya dibangun dengna gaya Tionghoa. Hingga kini makamnya cukup sering didatangi peziarah.
#santrikebumen

Senin, 12 Agustus 2024

APA BEDANYA DONOR DARAH dengan DONOR DARAH APHERESIS...?

Ketahui Perbedaan Antara Donor Darah dan Donor Apheresis

Darah3 menit
Ditinjau oleh dr. Fadhli Rizal Makarim 15 Juni 2022

“Tidak banyak orang yang tahu perbedaan antara donor darah dan donor apheresis. Meski keduanya melibatkan pengambilan darah, tapi pada dasarnya berbeda.”

Ketahui Perbedaan Antara Donor Darah dan Donor Apheresis

Halodoc, Jakarta – Kebanyakan orang lebih dekat dengan istilah donor darah. Sebab, kegiatan ini kerap menjadi sorotan dan mudah untuk dilakukan. Namun, tidak banyak orang yang tahu tentang donor apheresis. Donor darah dan donor apheresis adalah sesuatu yang berbeda. Ketahui perbedaannya di sini!

Beda Antara Donor Darah dan Donor Apheresis

Donor darah adalah kegiatan yang dilakukan untuk menunjukkan kepedulian antar sesama. Seseorang bisa melakukan kegiatan baik ini setiap 3 hingga 4 bulan sekali. Hal ini bisa dilakukan di Palang Merah Indonesia atau beberapa lembaga atau tempat kegiatan amal dilakukan.

Selain donor darah, kegiatan baik lainnya yang bisa dilakukan untuk menolong sesama adalah donor apheresis. Donor ini dibutuhkan oleh para pengidap kanker. Memang, kegiatan donor ini masih relatif baru di Indonesia. Perbedaannya, donor apheresis hanya membutuhkan komponen darah tertentu, plasma darah, sel darah putih, sel darah merah, atau trombosit.

Pengambilan donor ini menggunakan alat khusus yang berbeda dari donor darah. Saat komponen darah yang diinginkan sudah didapatkan, darah yang sudah diambil dikembalikan ke dalam tubuh seseorang yang memberikan donor.

Berikut beberapa jenis donor apheresis yang perlu diketahui:

  • Trombaferesis: proses apheresis untuk mengambil trombosit;
  • Eritraferesis: proses apheresis untuk mengambil sel darah merah;
  • Leukaferesis: proses apheresis untuk mengambil sel darah putih; dan
  • Plasmaferesis: proses apheresis untuk mengambil plasma.

Lalu, apa sih perbedaan donor darah dan donor apheresis?

Meski terlihat serupa, ada beberapa hal membedakan dari dua donor ini, antara lain:

1. Alat Donor

Untuk donor darah, alat yang dibutuhkan hanya jarum suntik dan perlengkapan tambahan lainnya. Namun untuk donor apheresis, proses ini membutuhkan bantuan alat khusus yang mampu menyaring komponen yang diinginkan dari darah.

2. Waktu Donor

Perbedaan yang kentara terkait donor darah dan donor apheresis adalah waktu yang dihabiskan. Untuk melakukan donor darah, seseorang yang perlu menghabiskan 10 hingga 15 menit. Namun pada donor apheresis, waktu yang dibutuhkan lebih lama, yaitu kisaran 1,5 hingga 2 jam.

3. Rentang Waktu Donor

Seperti yang disebutkan sebelumnya, seseorang bisa melakukan donor darah dalam rentang waktu 3-4 bulan lamanya. Berbeda dengan donor apheresis yang bisa dilakukan setelah 2 minggu dari donor sebelumnya.

4. Kualitas Donor

Salah satu hal yang paling penting untuk diketahui terkait perbedaan donor darah dan donor apheresis adalah kualitas donornya. Setiap 1 kantong trombosit yang didapatkan ternyata hampir setara 10 kantong donor darah biasa secara kualitas.

5. Komponen Darah

Donor apheresis dilakukan dengan mengambil komponen darah tertentu saja. Biasanya donor ini mengambil trombosit saja. Berbeda dengan donor darah yang mengambil semua komponen darah.

Alasan Harus Melakukan Donor Apheresis

Donor ini awalnya hanya dilakukan oleh Rumah Sakit Kanker. Sebab, kebanyakan pasien yang terserang kanker lebih membutuhkan donor trombosit agar tetap stabil dibandingkan donor darah biasa.

Trombosit berfungsi sebagai pengikat keping-keping darah, sehingga tidak banyak darah yang keluar saat perdarahan. Komponen darah ini juga dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh. Ada beberapa kondisi lainnya yang membutuhkan donor trombosit, seperti pengidap DBD, alami gangguan leukemia, dan alami kelainan darah.

Kamu juga bisa lho menggunakan fitur tanya dokter untuk mengetahui perbedaan antara donor darah dengan donor apheresis pada dokter dari Halodoc. Dengan download aplikasi Halodoc, kamu bisa mendapatkan akses kesehatan tanpa batas hanya dengan penggunaan smartphone. Gunakan aplikasinya sekarang juga!

Referensi:
UCLA Health. Diakses pada 2022. Donate Platelets.
Lee Health. Diakses pada 2022. Apheresis Donation.

Jumat, 10 Mei 2024

Apa itu 'kelping'? Mengapa paus membuat topi dari rumput laut


Paus bungkuk terkenal karena budayanya yang menakjubkan: Hewan-hewan misterius ini bermigrasi ribuan mil setiap tahun, menyanyikan lagu-lagu yang mempesona , melompat dari air dalam lubang besar , dan berkolaborasi saat berburu — menciptakan jaring gelembung yang menjebak mangsanya.

Kini, para peneliti telah menjelaskan aspek lain dari perilaku paus: bermain dengan rumput laut yang mereka temukan mengambang di lautan—menggerakkannya di antara sirip, berguling-guling, dan, yang paling menarik, memakainya di atas kepala seperti topi.

Perilaku ini—yang disebut kelping—telah dijelaskan dalam sebuah penelitian baru sebagai “fenomena global”. Studi ini mendokumentasikan contoh-contoh paus bungkuk ( Megaptera novaeangliae ) di seluruh dunia yang berinteraksi dengan rumput laut, yang diambil dari lebih dari seratus postingan media sosial, dan menunjukkan bahwa perilaku lucu ini jauh lebih umum daripada yang diperkirakan sebelumnya

Di dalam dunia budaya paus yang tersembunyi .

Tidak diragukan lagi kelping terlihat menyenangkan. Tapi mungkinkah itu mempunyai tujuan lain? Olaf  Meynecke , peneliti di Griffith University dan salah satu penulis studi tersebut, berpendapat demikian—terutama mengingat paus dapat bertahan selama sekitar 30 hingga 40 menit.

“Waktu yang cukup banyak jika dihabiskan hanya dengan sepotong kecil alga,” katanya. “Sepertinya ada yang lebih dari itu.”

Meynecke yakin cara mereka menggerakkan rumput laut dengan seluruh bagian tubuhnya dengan lembut dan akurat dapat menunjukkan pelatihan mobilitas—paus membutuhkan ketangkasan dan koordinasi untuk makan. Ini mungkin juga terasa enak bagi paus dan bermanfaat bagi kulit mereka.




Sudah berapa lama paus kelping?

Kelping pertama kali diamati pada tahun 2007, dan bukan hanya ikan paus bungkuk saja yang melakukan pengamatan tersebut. Spesies balin lainnya, Termasuk paus abu-abu dan paus sikat utara dan selatan, juga diamati berinteraksi dengan rumput laut.

Setelah melihat video kelping dan membaca studi tahun 2012 tentang fenomena tersebut, Meynecke pun tertarik. Dia sekarang telah melihat tiga video drone kelping yang tidak ada hubungannya, dan bertanya-tanya berapa banyak lagi video kelping yang ada di luar sana.

Untuk mengumpulkan lebih banyak data tentang perilaku aneh ini, dia menelusuri media sosial dengan kata kunci seperti “kelping”, “paus bungkuk”, “paus”, dan “rumput laut”, dan menemukan ratusan postingan, yang kemudian dianalisis oleh tim secara sistematis.

Meynecke mengatakan bahwa menjadi jelas bahwa perilaku ini bukan suatu kebetulan: “Memiliki sesuatu yang menyentuh tubuh Anda di dalam air cukup sulit karena tidak benar-benar ingin menempel, melainkan hanyut,” katanya.

Apakah paus bungkuk mencoba menyelamatkan anjing laut dari orca? Lihat sendiri. )

Heidi Pearson, profesor biologi kelautan di Universitas Alaska Tenggara, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, telah melihat kelping di lokasi penelitiannya di Juneau, Alaska. Suatu ketika, seekor betina bernama Teritip tampak seperti terjerat tali pancing. Ternyata dia "sedang bermain dengan rumput laut ini" yang menutupi punggungnya.

Namun “Saya tidak pernah mendokumentasikannya secara kuantitatif,” katanya, sambil menambahkan bahwa dia “tidak tahu bahwa kata untuk itu adalah kelping.”


Nara sumber :

Sebuah studi baru menyoroti perilaku paus yang menakjubkan. Tapi apakah ini hanya sekedar permainan—atau setara dengan rutinitas perawatan kulit di laut?

Oleh :

Heidi Pearson, profesor biologi kelautan di Universitas Alaska Tenggara



Arsip Blog